Gangguan Parafilia

Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan kata lain, terdapat deviasi (para) dalam ketertarikan seseorang (filia). 

Parafilia (paraphilia) diambil dari akar bahasa Yunani para, yang artinya "pada sisi lain", dan philos artinya "mencintai". Biasanya, individu yang menderita parafilia mempunyai objek-objek pemenuh kepuasan khusus. Penyebab gejala-gejala ini biasanya terjadi karena malafungsi mekanisme pertahanan diri pada masa kecil.

Berikut ini jenis-jenis dan gangguan parafilia :


1. Pedofilia 
Adalah kelainan seks dengan melakukan seksual untuk memenuhi hasratnya dengan cara menyetubuhi (pencabulan) anak-anak dibawah umur. Hal ini dilakukan oleh orang dewasa (16 tahun keatas) terhadap anak-anak secara seksual belum matang (biasanya dibawah 13 tahun). Hampir semua yang mengalami gangguan ini adalah pria. Untuk menarik perhatian anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan ada juga yang berperilaku kasar dan mengancam.

Umumnya penderita pedopilia adalah orang yang takut gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya ia mengalihkan pada anak-anak karena kepolosan anak tidak mengancam harga dirnya. Disamping itu ketika anak-anak, perilaku meniru dari model atau contoh yang buruk. Ada tiga macam penggangu dalam berfantasi : 
  • Mengganggu situasional (situasional molester) yaitu mempunyai perkembangan dan perhatian seksual yang normal, tetapi keadaan tertentu seperti stress timbul  keinginan seksual terhadap anak dan setelah melakukan merasa tertekan. 
  • Pengganggu yang menjadi pilihan (preference molester) merupakan kepribadian dan  gaya hidupnya. 
  • Pemerkosa anak merupakan perbuatan dari dorongan seksual yang bersifat musuh. 

2. Exibionisme 
Adalah dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasan seksual atau untuk membangkitkan fantasi-fantasi dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tidak dikenal. Gangguan ini tidak berbahaya bagi si korban. Penderita gangguan ini adalah pria dan korbannya adalah wanita (anak-anak maupun dewasa). 

Para ahli mengatakan gangguan ini biasanya mengalami gangguan buruk pada pasangan seks nya. Mereka tak percaya diri dalam hal seksual, dan biasanya tidak matang dalam hal nya sebagai seorang pria, penyebabnya pengalaman pada masa perkembangan anak-anak, pada masa anak dia menunjukkan alat kelaminnya dan korban merasa excited ( terkejut, takut, malu dan jijik) maka si penderita merasa itu adalah sebuah pujian dan kejantanan baginya. 

Menurut teori psikoanalisa, gangguan ini merupakan cara untuk menolak ketakutan kastrasi yang berasal dari tahap odipal, pada tahap ini penderita mengalami fiksasi. 

3. Voyeurisme 
Berasal dari bahasa prancis yaitu kata ‘voir’ artinya melihat, yaitu untuk mendapatkan kepuasan dengan cara melihat organ seks orang lain atau orang yang sedang melakukan katifitas seksual, yang tidak menyadari seseorang sedang di intip (bahasa harian peeping tom). Pada gangguan ini penderita memiliki keinginan yang sungguh-sungguh dan berulang untuk melihat orang yang tidak menyadari keberadaannya (mengintip). Gangguan ini memiliki dua ciri yaitu: 
  • Mengintip merupakan kegiatan utama yang disukai
  • Korban tidak mengetahui 
Menurut psikodinamika modern gangguan ini didorong oleh ketakutan terhadap kemampuan dalam berhubungan dengan wanita dan merupakan usaha untuk mengkonpensasi rasa malu. Adler menginterpretasikan gangguan ini sebagai fungsi rasa malu individu dalam meyelesaikan masalah seksualitasnya. Teori belajar sosial mengatakan bahwa gangguan ini berkembang akibat kurangnya seks individu.

Bagi orang dewasa normal hubungan seks mencakup segala aktivitas yang dapat menyebabkan gairah seks (misalnya melihat organ seks pasangan) sampai aktivitas senggama itu sendiri, sedangkan pada penderita ini hanya memusatkan pada “melihat” sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh kepuasan seksual. Umumnya penderita berasal dari keluarga yang puritan (tabu) terhadap seks.

4. Sadomasokis
Istilah sadisme berasal dari marquis de sade seorang penulis pada abad ke delapan belas, ia menggambarkan seorang tokoh yang memperoleh kepuasan seks dengan menyiksa pasangannya secara kejam, sadisme seksual adalah kepuasan seksual didapat dari aktifitas atau dorongan menyakiti pasangan. Siksaan bisa secara fisik (menendang, memperkosa, dan memukul) maupun psikis (menghina, memaki-maki), penderitaan korban inilah yang bisa membuatnya merasa bergairah dan puas. 

Orang ini menjadi gembira melihat atau berimajinasi tentang kesakitan oranglain, penyebabnya pada kehidupan, mula-mula hukuman dan disiplin banyak berperan. Psikoanalisa memandang gangguan ini sebagai cara untuk menurunkan kecemasan dalam mencari kepuasan seksual pada masa anak-anak. 

5. Masokhisme
Istilah Masokhisme diambil dari nama novelis Leopold Von Sacher Masoch yang seorang tokoh novelnya yang mencapai kepuasan seksual bila diperlakukan secara sadis, gangguan ini meilki ciri mendapatkan kegairahan dan kepuasan seksual yang didapat dari perangsangan dengan cara diperlakukan secara kejam baik secara fisik maupun psikis. Perlakuan kejam bisa dilakukan sendiri atau dilakukan oleh pasangannya. Penyembuhan ini dengan cara terapi individual dan kelompok berdasarkan psrinsip behavior conditioning. 

6. Fetisisme
Ciri utama gangguan ini adalah penderita menggunakan benda sebagai cara untuk menimbulkan gairah atau kepuasan seksual, benda yang umum digunakan adalah benda aksesoris milik wanita misalnya pakaian dalam wanita, sepatu, kaus kaki dll. Fetis mengandung tingkahlaku seperti kompulsif. Pengalaman pada kehidupan mula-mula menghasilkan hubungan antara gelora seksual dan objek Fetis. 

7. Transvestisme
Gangguan ini hanya terjadi pada laki-laki yang perilakunya seperti wanita, gambaran utamanya adalah penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual bila ia berpakaian seperti lawan jenisnya, ketika seang berpakaian seperti wanita, penderita melakukan masturbasi lalu sambil membayangkan seoran laki-laki tertarik pada dirinya sebagai seorang wanita. Gangguan ini memilki sifat kompulsif, menggunakan banyak energi emosional. 

Permulaan gangguan ini pada masa anak atau adolesensi pada umumnya tidak mencari bantuan, lain seperti depresi perlakuannya adalah metode behavior seperti conditioning aversif, sensitisasi tertutup. Karena close dresing selalu mempunyai tujuan mengurangi kecemasan, maka terapis mendorong klien mendapat insight kedalam stress-stress yang menjadi penyebab tingkahlaku tersebut melalui sikap terapi tradisional.

8. Zoofilia
Gangguan ini juga disebut dengan Bestiality, ciri utamanya adalah penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual dengan cara melakukan kegiatan seksual dengan binatang. Konteks seksual bisa dengan melakukan senggama dengan binatang (lewat anus atau vagina binatang, atau “menyuruh” binatang memanipulasi alat genitalnya). 

9. Froterisme
Ciri utama gangguan ini adalah dorongan untuk menyentuh, meremas-ramas dan menggesek-gesekkan organ seks kepada orang tak dikenal, penderita umumnya senang berada ditempat yang penuh sesak dimana ia bisa melarikan diri dengan mudah, bisanya yang menjadi korban adalah wanita yang sangat menarik dengan pakaian yang sangat ketat. Ketika sedang melakukan aksinya penderita berfantasi sedang melakukan hubungan yang menyenangkan dengan si korban. Korban biasanya tidak protes karena ia tidak mengira akan terjadi tindakan seksual seperti itu ditempat umum. Hal ini didapat dari pengalaman lampau yang selalu mendapat penguat. Perlakuannya pamadaman dan condotioning tertutup. 

10. Necrophiliac
Gangguan seksual dimana penderita merasa terangsang terhadap mayat, atau mendapatkan kepuasan seksual jika melakukannya kegiatan seksualnya dengan mayat. 
Secara umum ada 3 tipe penderita Necrophiliac: 
  • Homicide, penderita harus membunuh dahulu untuk mendapatkan mayat dan memperoleh kepuasan seksual 
  • Regular, penderita menggunakan jasad mati untuk kesenangan seksualnya tanpa membunuh terlebih dahulu 
  • Fantasy, penderita berfantasi melakukan hubungan seks dengan mayat, tapi tidak benar-benar melakukannya, hanya sebatas fantasi. 
  • Necrophilia, juga disebut thanatophilia atau necrolagnia, adalah ketertarikan seksual pada mayat. Diklasifikasikan sebagai paraphilia oleh "Diagnostic and Statistical Manual of the American Psychiatric Association".

Dalam catatan tertulis Mesir Kuno, ada yang menyarankan praktek ini. Herodotus menulis dalam The Histories, untuk mencegah hubungan seksual dengan mayat, orang Mesir kuno meninggalkan wanita cantik almarhum membusuk 3-4 hari sebelum diberikan ke pembalsem. Para suami takut mayat istrinya diperlakukan tak senonoh oleh pembalsem. Salah satu yang jadi legenda adalah Raja Herod yang membunuh istrinya, lalu berhubungan seks dengan mayatnya selama lebih dari 7 tahun. 

Beberapa masyarakat melakukan praktek karena ada keyakinan jiwa perempuan yang tidak menikah tidak akan menemukan kedamaian. Di Kachin, Myanmar, upacara pernikahan diadakan untuk perawan yang telah meninggal, yang melibatkan hubungan badan dengan mayatnya. Praktek serupa ada di beberapa masyarakat pra-modern Eropa Tengah ketika wanita yang bertunangan dan akan menikah meninggal sebelum pernikahan